Sabtu, 30 Maret 2019
PENGUNJUNG MASJID AGUNG AHMAD BAKRIE KISARAN DI BENTAK OKNUM SATPOL PP SAAT KHENDAK BERKUNJUNG DAN BERTEDUH DARI HUJAN SERTA MENURUNKAN PENUMPANG
Sabtu, 30 Maret 2019 pengunjung mesjid Ahmad Bakrie Kisaran Asahan Terkejut saat khendak berteduh dari hujan dan menurunkan penumpang serta memarkirkan kendaraannya di halaman masjid, Oknum petugas Pol PP segera saja berteriak agar pemilik kendaraan tidak menurunkan penumpang di lokasi tersebut. "woy woy woy jangan berhenti disana kata mereka, sedang kami ingin berteduh dan keluar dari mobil, kami bawa anak kecil, mereka enggak kasihan disitu ada orang tua dimanalah tata krama kepada tamu sedang ini di mesjid" tutur Wisma salah seorang pengunjung.
Kami kutip dari laman Facebooknya "MasyaAllah..
Cerita hari in..
Sekeluarga jln2 k k Masjid bakrie..
Karena kondisi hujan.. Jdi kami meluncur.. Mendekati masjid tanpa kami tau kalau d situ d larang berhenti/parkir(soalnya tidak ad Tanda tanda d larang berhenti.. (jadi kami berhenti sebentar sebelum parkir d tempt parkir yg sudah d sediakan) ..
Dengan arogan nya bpk2 satpol PP yg terhormat..
Mengusir kami dengan kata kata kasar.. Woi.. Woi.. Dan bla.. Bla..
Tanpa mereka tahu keadaan kami d dalam membawa bayi...
MasyaAllah dunia..
Coba saja yg dtg pejabat.. Pasti ny mereka menyembah2 membuka pintu mobil mereka..
Dunia.. Dunia..
Iyaa memang mereka melaksanakan tugas..
Tpi alangkah baik ny menggunakan kta2 yg sopan santun..
Kami bukan binatang..
Kami manusia..
Semoga kalian terkenal bapak2 Satpol PP yg terhormat...
Dan cepat naik Jabatan.. Biar gk capek x kalian kerja.. Amiinn.." Ungkapnya kesal
Pengunjung lain juga pernah dapat perlakuan yang sama dari oknum SatPol PP
"Kami juga pernah kesana ingin shalat tapi mereka tidak mengizinkan masuk saat acara OVOP kemarin itu " tutur ana salah seorang pengunjung.
Kejadian ini semoga menjadi pembelajaran agar tidak terjadi lagi hal hal yang seperti ini, "Kita malu kalau ada pengunjung dari luar kota kalau di bentak bentak dengan nada tinggi seperti itu " tutur dayat. Semoga adab kita menjaga mesjid lebih di tingkatkan jangan sampai hal ini menciderai Rumah Ibadah dan pengunjung.
Jumat, 08 Maret 2019
TOLAK PUTUSAN PANITIA MTQ Kab. ASAHAN ke 50 YANG MENDISKUALIFIKASI PESERTA FAHMIL ASAL SILAU LAUT
![]() |
| Mimbar Utama Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Kabupaten Asahan Ke 50 di Kecamatan Silau Laut |
" Kami menanyakan atas dasar apa panitia mendiskualifikasi kami padahal kami tidak melanggar sanksi dari LPTQ, kami dipanggil Panitia setelah grup kami masuk di babak Semi final fahmil Qur'an, mereka mempermasalahkan ada salah seorang dari grup fahmil Qur'an Putra utusan kecamatan Silau Laut ini pernah mengikuti even di tingkat provinsi tahun 2017. dia pun enggak menangnya jadi apa masalahnya?" Ujar salah seorang Official Kecamatan Silau Laut
![]() | ||
| Sumber : http://azharcentre.com/pedoman-organisasi-lptq-dan-persyaratan-peserta-mtq/ |
Mengingat pentingnya menjaga kualitas kita dalam menyiarkan Al Qur'an perlulah berlaku adil sehingga keputusan tidak serta merta merugikan kedua belah pihak. semoga Kedepannya akan lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan dan memberlakukan peraturan yang memang di terapkan di LPTQ yang dalam hal ini sebagai sarana dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an Khusus nya di Asahan.
Selasa, 15 Januari 2019
TANGIS HARU MASYARAKAT SILAU LAUT MELEPAS PINDAH TUGASNYA CAMAT AHMAD SYAIFUL PASARIBU
![]() |
| Ahmad Syaiful beserta ibu Diana Putri sedang di upah upah di atas mobil hias |
Ahmad Syaiful di kenal tidak pandang waktu dalam bekerja " Camat Ahmad Syaiful ini kadang tengah malam baru pulang dari kantor menyelesaikan tugas tugasnya. Kami Sangat kehilangan sekali sosok beliau di Silau Laut ini, semoga dengan dipindahkan tugasnya bapak Syaiful ini menjadi berkah karir buat beliau" ujar Arifin salah seorang tokoh masyarakat.
Ahmad Syaiful ditugaskan di Silau Laut ini hanya 4 bulan 11 hari, meskipun demikian banyak program dan gebrakan yang sudah beliau jalankan diantaranya "Syafari Jum'at, Maghrib Mengaji dan penilaian Keaktifan Mesjid". Kemudian beliau juga telah menyelenggarakan Tournament tahunan yakni Sepak Bola dan Sepak Takraw.
Beliau berpesan kepada camat yang baru agar terus melanjutkan program program yang telah berjalan dan menambah program yang lebih baik untuk membangun Silau Laut. "Kami Sangat kehilangan sosok camat idola kami mengingat beliau yang menyatukan seluruh OKP di Silau Laut agar satu tujuan yakni membuat Silau Laut lebih Baik dimata Dunia, Semoga pindahnya beliau dan pergantian camat yang baru ini mampu lebih bekerja lebih keras untuk Silau Laut." Ujar Ahlun Nazar Alfaezi salah seorang tokoh pemuda di Silau Laut
![]() |
| Bapak ibrahim Ali, Kades Silo Lama, Bg Endra Kong serta Camat yang baru mengantar Bapak Syaiful berpindah tuigas dengan mobil hias |
Bapak Ibrahim Ali Selaku Pemangku Adat Kecamatan Silau laut dan seluruh masyarakat menghantar beliau ketika meninggalkan lokasi kantor camat Silau Laut, mayarakat pun beramai ramai dan antusias serta terharu melepas pindah tugasnya beliau, semoga bapak Camat Ahmad Syaiful Pasaribu selalu dalam lindungan Allah dan di beri kesehatan Selalu agar nantinya dapat bersilaturrahim lagi di keluarga besar SIlau Laut.
created by: Ahlun Nazar Alfaez, S. Kom
Senin, 08 Oktober 2018
USTADZ ABDUL SOMAD DUKUNG PENUH KEGIATAN POSITIF KAMI SILAU LAUT
USTADZ ABDUL SOMAD DUKUNG PENUH KEGIATAN POSITIF KAMI SILAU LAUT
08 Oktober 2018 UAS sapaan akrab terhadap Ustad H. Abdul SOmad, Lc., MA. berkesempatan pulang kekampung halaman. Beliau pulang dalam rangka berkabung tujuh hari meninggalnya Abangda dari Ibu Ustadz Abdul Somad. Dalam kesempatan itu pula beliau menyempatkan bertemu dan menyapa serta bertausiah dihadapan warga Silau Laut yang memang sejak lama menrindukan kehadiran beliau ditengah tengah mereka.
Dalam kesempatan itu pula pemuda pemudi serta masyarakat Silau Laut yang antusias ingin berjumpa dengan beliau memenuhui kediaman Alm. Abdul Jabar(uwak Ust. Abdul Somad).
Ustadz Abdul Somad merespon positif antusias masyarakat tersebut beliau mensuport penuh kegiatan positif yang ada dan yang akan dilakukan di Silau Laut, Bentuk respon positif Beliau adalah dengan memberikan support penuh kepada Kami Silau Laut untuk terus berkarya memajukan dan menjaga adat budaya yang ada di Silau Laut.
![]() | |
| UAS Bersama Masyarakat SIlau Laut |
Ustad Abdul Somad berpesan kepada masyarakat yang hadir agar tetap semangat dan terus berusaha agar cita cita yakni 2020 Silau Laut dapat terwujud "2020 itu bukan waktu yang lama, sebentar lagi itu loh Ungkap beliau di sambut takbir oleh masyarakat".
Ustadz Abdul Somad selaku penasehat Kami Silau Laut agar berpesan kepada masyarakat dan Pemuda Silau Laut agar istiqamah dan konsekuen dalam berkarya serta menjaga nama baik Silau Laut karena Silau Laut merupakan Serambi Mekahnya Kabupaten Asahan. Terakhir pesan beliau jauhi Narkoba, Judi, Khamar Dan maksiat yang lain agar kampung kita terjaga dari Bala Bencana atau Musibah yang bisa saja terjadi karena banyaknya maksiat di daerah tersebut.
created by: Ahlun Nazar Alfaezi, S. Kom
Kamis, 04 Oktober 2018
SEJARAH SINGKAT TUAN SYEKH SILAU LAUT, ULAMA KHARISMATIK DARI SILAU LAUT KABUPATEN ASAHAN
Syekh Silau Laut merupakan salah seorang ulama besar kenamaan di daerah
Asahan, Sumatera Utara, Namanya diabadikan menjadi nama jalan di Daerah Asahan. Silau Laut sendiri merupakan nama sebuah kawasan (saat ini
kecamatan) di Kabupaten Asahan.
Tulisan ini akan mengupas sekelumit sejarah biografi Syekh Silau laut yang menjadi kebanggaan masyarakat Asahan.
Tuan Syekh Silau Laut bernama lengkap Syekh H. Abdurrahman Urrahim bin Nakhoda Alang Batubara. Syekh Silau Laut dilahirkan di daerah Batubara (sekarang Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Tiram Batubara, Sumatera Utara) pada tahun 1858 atau 1275 Hijriyah.
Ayahnya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail, keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao (perbatasan Mandailing Natal dengan Sumatera Barat). Gelar ‘nakhoda’ di awal nama ayahnya itu profesinya sebagai Nakhoda di sebuah kapal tongkang miliknya sendiri. Kapal itu digunakannya untuk membawa barang-barang dagangan antarpulau, bahkan hingga ke semenanjung Malaya (Malaysia).
Ibunya bernama Naerat berasal dari Kampung Rantau Panjang (Kecamatan Pantai Labu Deli Serdang, Sumatera Utara). Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu: Abas, Siti Jenab, Abdurrahan, Abdurrahim.
Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara.
Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta). Ia suka berkhalwat sejak usia 15 tahun.
Menuntut Ilmu ke Minangkabau, Aceh dan Siam
Setelah menginjak dewasa sekitar 17 tahun, Abdurrahman ingin memperdalam ilmu Islam. Dengan memohon izin kepada kedua orang tuanya, ia pun pergi merantau ke daerah asal para pendahulunya di Minangkabau tepatnya di Bukit tinggi.
Di sana, ia berguru kepada seorang ulama yang cukup dikenal ketika itu bernama Syekh Jambek. Di samping ia mempelajari ilmu-ilmu syari'at dan ilmu fiqih, Abdurrahman lebih menekuni ilmu hakikat yaitu tauhid dan tasawuf.
Tak hanya ilmu syariat, Tuan Syekh Silau Laut saat remajanya juga meminati ilmu beladiri (silat). Untuk mempelajari ilmu bela diri ini ia belajar kepada salah seorang ahli beladiri yang cukup dikenal di tanah Minangkabau bernama Tuk Angku Di Lintau.
Dalam usahanya untuk membekali dirinya dengan ilmu bermanfaat, Syekh Silau Laut juga belajar ke Aceh, namun belum diketahui daerah dan gurunya tempat ia belajar.
Saat usia remaja itu, Syekh Silau Laut merasa masih kurang puas dengan ilmu yang dimilikinya. Tidak lama setelah ia pulang dari Minangkabau dan Aceh, salah seorang Pakciknya bergelar Panglima Putih membawanya merantau ke negeri Fathani (Thailand). Atas restu kedua orang tuanya, ia pun berangkat untuk menambah ilmu Agama Islam.
Di dalam pelayarannya, Abdurrahman muda (Syekh Silau Laut) menunjukkan kemahirannya dalam ilmu silat kepada para penumpang kapal. Ia tidak mengetahui kalau di antara mereka ada rombongan Sultan Kedah yang akan pulang ke negerinya.
Di Negeri Fathani, Abdurrahman muda belajar kepada salah seorang ulama yang cukup dikenal. Ula ini bernama Syekh Wan Mustafa dan anaknya bernama Syekh Daud Fathani.
Selama berada di sana, Abdurrahman lebih banyak belajar ilmu tauhid, ilmu tasawuf dan ilmu hikmah/ketabiban. Di samping belajar, ia ditugaskan gurunya pula untuk mengajar.
Menjadi Hulubalang di Kedah
Ketika berada di Fathani, ia didatangi utusan dari Kedah dengan maksud mengundangnya datang ke negeri Kedah. Alasannya, Sultan Kedah ingin melihat kemahirannya dalam ilmu silat di hadapan Hulubalang, prajurit dan rakyat negeri Kedah.
Tulisan ini akan mengupas sekelumit sejarah biografi Syekh Silau laut yang menjadi kebanggaan masyarakat Asahan.
Tuan Syekh Silau Laut bernama lengkap Syekh H. Abdurrahman Urrahim bin Nakhoda Alang Batubara. Syekh Silau Laut dilahirkan di daerah Batubara (sekarang Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Tiram Batubara, Sumatera Utara) pada tahun 1858 atau 1275 Hijriyah.
Ayahnya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail, keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao (perbatasan Mandailing Natal dengan Sumatera Barat). Gelar ‘nakhoda’ di awal nama ayahnya itu profesinya sebagai Nakhoda di sebuah kapal tongkang miliknya sendiri. Kapal itu digunakannya untuk membawa barang-barang dagangan antarpulau, bahkan hingga ke semenanjung Malaya (Malaysia).
Ibunya bernama Naerat berasal dari Kampung Rantau Panjang (Kecamatan Pantai Labu Deli Serdang, Sumatera Utara). Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu: Abas, Siti Jenab, Abdurrahan, Abdurrahim.
Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara.
Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta). Ia suka berkhalwat sejak usia 15 tahun.
Menuntut Ilmu ke Minangkabau, Aceh dan Siam
Setelah menginjak dewasa sekitar 17 tahun, Abdurrahman ingin memperdalam ilmu Islam. Dengan memohon izin kepada kedua orang tuanya, ia pun pergi merantau ke daerah asal para pendahulunya di Minangkabau tepatnya di Bukit tinggi.
Di sana, ia berguru kepada seorang ulama yang cukup dikenal ketika itu bernama Syekh Jambek. Di samping ia mempelajari ilmu-ilmu syari'at dan ilmu fiqih, Abdurrahman lebih menekuni ilmu hakikat yaitu tauhid dan tasawuf.
Tak hanya ilmu syariat, Tuan Syekh Silau Laut saat remajanya juga meminati ilmu beladiri (silat). Untuk mempelajari ilmu bela diri ini ia belajar kepada salah seorang ahli beladiri yang cukup dikenal di tanah Minangkabau bernama Tuk Angku Di Lintau.
Dalam usahanya untuk membekali dirinya dengan ilmu bermanfaat, Syekh Silau Laut juga belajar ke Aceh, namun belum diketahui daerah dan gurunya tempat ia belajar.
Saat usia remaja itu, Syekh Silau Laut merasa masih kurang puas dengan ilmu yang dimilikinya. Tidak lama setelah ia pulang dari Minangkabau dan Aceh, salah seorang Pakciknya bergelar Panglima Putih membawanya merantau ke negeri Fathani (Thailand). Atas restu kedua orang tuanya, ia pun berangkat untuk menambah ilmu Agama Islam.
Di dalam pelayarannya, Abdurrahman muda (Syekh Silau Laut) menunjukkan kemahirannya dalam ilmu silat kepada para penumpang kapal. Ia tidak mengetahui kalau di antara mereka ada rombongan Sultan Kedah yang akan pulang ke negerinya.
Di Negeri Fathani, Abdurrahman muda belajar kepada salah seorang ulama yang cukup dikenal. Ula ini bernama Syekh Wan Mustafa dan anaknya bernama Syekh Daud Fathani.
Selama berada di sana, Abdurrahman lebih banyak belajar ilmu tauhid, ilmu tasawuf dan ilmu hikmah/ketabiban. Di samping belajar, ia ditugaskan gurunya pula untuk mengajar.
Menjadi Hulubalang di Kedah
Ketika berada di Fathani, ia didatangi utusan dari Kedah dengan maksud mengundangnya datang ke negeri Kedah. Alasannya, Sultan Kedah ingin melihat kemahirannya dalam ilmu silat di hadapan Hulubalang, prajurit dan rakyat negeri Kedah.
Abdurrahman yang sengaja diundang untuk perang tanding tersebut, berhadapan dengan Panglima Elang Panas yang berasal dari Siam. Dengan kuasa dan izin Allah, Abdurrahman muda menang dalam perang tanding tersebut.
Lalu, Sultan Kedah pun menawarkannya untuk menjadi Kepala Hulubalang Kesultanan Kedah. Abdurrahman menerima tawaran itu, kemudian ia dinobatkan dan menjabat selama 7 tahun berturut-turut.
Menurut riwayat, beliau menerima gaji 60 Ringgit setiap bulannya. Dalam perantauannya di Fathani dan Kedah, beliau sempat pula belajar di Kelantan.
Abdurrahman menyadari bahwa cita-citanya semula adalah untuk menjadi seorang ulama yang akan mengembangkan agama Islam dan mengabdikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat negrinya.
Maka dari itu, ia meletakkan jabatannya sebagai kepala hulubalang Kesultanan Kedah lalu ia pulang kembali ke negeri asalnya di Batubara dijemput Abangnya bernama Abbas.
Setelah berada kembali di Batubara, ia mulai mengamalkan ilmunya untuk melakukan dakwah dengan mengisi pengajian yang ada di Batubara dan di daerah Serdang (sekarang Deli Serdang). Beliau dikenal masyarakat dengan panggilan Lebai Deraman.
Ketika berdakwah di daerah Serdang, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis Serdang bernama Maimunah. Sewaktu berada di Serdang beliau mengatasnamakan alamatnya melalui kemenakannya mufti Ahmad Serdang. Dan waktu senggangnya diisinya dengan “berkhalwat” di seberang sungai Serdang (sekarang Sungai Ular).
Pada masa Abdurrahman berdakwah dan menghidupkan pengajian di Batubara dan Serdang. Sebagian besar muridnya saat itu adalah nelayan. Para muridnya ini melaporkan bahwa mereka sering diganggu oleh bajak laut yang bermukim di pulau jemur sehinga mereka tidak aman mencari nafkah di Selat Melaka.
Mendengar laporan muridnya, Abdurrahman dan seorang kerabatnya bernama HM Zein berangkat membasmi para bajak laut tersebut dari dari Pantai Cermin, Serdang Bedagai.
Menuntut ilmu hingga ke Mekkah dan Siam (Thailand)
Tuan Syekh Silau Laut selain berguru kepada Tuan Baqi dari Langkat, Kedah, Kelantan, dan Fathani, Beliau juga menuntut ilmu ke Makkah selama tujuh tahun. Di Makkah berguru kepada Syekh Daud Fathani, seorang ulama Tariqhat Syattariah.
Seusai menimba ilmu di Mekkah, Tuan Syekh Silau Laut kembali ke Sumatera dan mengembangkan Tareqat Syattariah di daerah Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 H atau bertepatan dengan 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun.
Tuan Syekh Silau Laut dimakamkan di Desa Silo Lama Kecamatan Silau LAut. Di dekat makamnya terdapat makam sang istri bernama Hj Maryam dan dua anaknya yaitu Syekh Muhammad Ali dan Haji Abdul Latief.
![]() |
| makam Syekh Silau Laut di Asahan |
Wujud dari perhatian para penguasa Asahan dan Serdang itu antara lain berupa pembuatan jalan menuju Kompleks Tareqat Syattariah pimpinan Syekh Silau Laut. Awalnya adalah jalan setapak yang dirintis oleh Sultan Asahan yang kemudian diperlebar dan diperkeras atas bantuan Sultan Serdang. Hingga saat ini, masih banyak orang yang dadatang berziarah ke makam beliau tersebut. Sosok beliau tetap dikenang dan dihormati sebagai tokoh yang sangat berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Melayu, khususnya di Kesultanan Asahan.
Para penziarah itu datang dari berbagai daerah, termasuk dari negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan negara lainnya. Semoga Allah Swt memalah segala amal ibadah dan jasa beliau dengan pahala yang tak terhingga. Amin.
WOW PAWAI OBOR SILAU LAUT MENJADI SALAH SATU TRANDING TOPIK DI SUMUT
Silau
Laut merupakan satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Asahan, Provinsi
Sumatera Utara, di Silau laut ini pula lahir sosok tokoh yang sedang
digandrungi banyak kalangan yakni Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. Ulama
besar asal Silo Lama, Kecamatan Silau Laut ini pun sering mengunjungi
kampung halamannya sembari berziarah ke maqam kakeknya yakni Tuan Syekh
H. Abdurrahman Silau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Silau.
Bukan
hanya sosok ust. Abdul Somad, di Silau Laut juga lahir sosok seniman
lukis modern yang telah banyak berkarya baik di nasional maupun
internasional yakni Endra
Kong. Beliau salah satu tokoh yang menjadi pelopor bergeraknya pemuda
dan pemudi di Silau Laut untuk melaksanakan pawai obor memperingati
Tahun Baru Islam yang ke 1440 H.
![]() |
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat
Indonesia pada umumnya, akan tetapi pawai obor yang di prakarsai oleh
Sunardi, SE, Ahlun Nazar Alfaezi S. Kom., dan Rahmad Hidayat dan
didukung oleh Tokoh Pemuda lainnya, masyarakat dan tokoh adat Silau laut
menjadi salah satu trending topik di Sumatera Utara.
Pasalnya acara ini diikuti oleh 1000 orang peserta yang antusias mulai
dari kalangan masyarakat, pelajar, hingga anak anak nampak antusias
dalam menyelenggarakan pawai obor menyambut Tahun Baru Islam ini. Hingga
saat ini ada lebih kurang 5360 postingan yang menyertakan hastag
KAMISILAULAUT. yang sampai saat ini masih menjadi salah satu trending
topik di sumut.
Rabu, 03 Oktober 2018
Endra Kong, Seniman Silau Laut kabuapten Asahan Pendiri Galeri & Museum Seni Pertama di Desa
Endra Kong, Seniman Silau Laut Asahan Pendiri Galeri & Museum Seni Pertama di Desa
Warga Silo Lama, Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan boleh berbangga hati. Karena di Asahan ada seorang
seniman muda berbakat bernama Endra Kong. Setelah sukses mengukir
ketenaran lewat puluhan karya seni yang dia ciptakan, kini anak desa
tersebut balik ke kampung halaman di desa Silo Lama dan mendirikan galeri dan museum seni
pertama yang berdiri di desa se Indonesia.
Rumah Pinsil, begitu nama museum dan galeri seni yang ia ciptakan di
Desa Silo Lama, Dusun I Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan. Pensil
diambil dari singkatan pusat seni studi dan inspirasi Silau. Galeri dan
museum ini diresmikan sejak, Sabtu (12/8) oleh Wakil Gubernur Sumatera
Utara Nurhajizah Marpaung.
Melalui galeri seni yang baru dia dirikan itu, Endra seolah
merangsang anak-anak di kampungnya untuk mengeluarkan bakat seni yang
mereka miliki. Kemudian motivasi serupa ingin dia sampaikan untuk sesama
seniman bahwa seniman sekalipun ternyata punya tanggungjawab sosial
untuk memberikan ruang seni seluas luasnya pada generasi berikutnya.
“Saya harap anak-anak di desa berkembang dan tumbuh sesuai kodratnya.
Tidak terpengaruh lingkungan. Mereka hidup dan hadir dengan segala
kemurnian dari apa yang dia minum, dan makan. Ini juga penghormatan
diri untuk belas asih atas cita cita dari mimpi saya selama ini,” kata
Endra.
Endra kemudian mulai menceritakan, sejak bakat alami itu dia sadari
ketika berumur 5 tahun ia mulai memasuki dunia gambar. Dia hanya
menggunakan pensil dan hanya menggabar di kulit pohon dan pada daun
pisang. Terkadang diatas permukaan tanah kering sehabis hujan. Paling
banyak digambar adalah objek pemandangan, manusia dan hewan.
Kini penggagas Galeri Seni dan Museum Rumah Pinsil pertama di desa,
Endra Kong mengaku bangga dan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan
adalah bagian dari membangun karakter anak-anak dan anak muda agar
menjadi insan yang kreatif serta bermental kuat.
“Kita mengajarkan anak-anak agar jangan jadi pengemis
(meminta-minta). Silahkan berkarya dan mandiri. Jadi ini semua merupakan
sumber inspirasi,” kata Endra.
Lebih dalam Endra juga mengungkap mengapa dia tertarik mendirikan
galeri seni di desa yang semua orang tahu mendirikan galeri seni di desa
tidak akan memungkinkan untuk menghasilkan uang apalagi untuk fokus dan
konsisten menjalaninya.
Setidaknya ada berbagai karya seni yang ditampilkannya selain lukisan
yang dia buat sendiri diantaranya sepakbola singkong, lukisa yang bahan
materialnya dari gunung sinabung, patung batu alam, lukisan seni rupa
multimemdia, danbeberapa lukisan karya seniman yang dia kagumi.
“Mendikan galeri seni di desa apalagi di kampung halaman saya sendiri
adalah mimpi saya. Saya berharap kedepan banyak anak anak desa yang
terasah insting seninya dan menempatkan karyanya di galeri ini, dengan
seni pasti anak desa menjadi terarah pola hidup dan pikirnya” jelas
Endra.
Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Nurhajizah Marpaung saat
meresmikan galeri seni Endra, Sabtu (12/8) mengapresiasi upaya yang
dilakukan seniman Endra Kong melalui pendirian Rumah Pintar Silau
(Pinsil) sebagi wujud pembinaan generasi muda dan pelestarian nilai seni
budaya.
Nurhajizah menyampaikan agar pembinaan seni budaya harus terus
dipertahankan karena sangat penting bagi identitas bangsa dan kekayaan
daerah.
“Bagaimana kita bisa membina seni budaya yang ada. Begitu juga dengan
sejarah kita, harus terus didengungkan agar generasi muda bisa memahami
pentingnya menjaga nilai budaya ini,” ujar Wagub.
Kemudian, iapun berpesan agar hal positif semacam ini, termasuk
pembinaan kepada generasi muda, bisa terus dijaga dan ditingkatkan. Yang
paling memprihatinkan saat ini adalah masalah penyalahgunaan narkoba. (Per/syaf/ma)
ULAMA DARI SILAU LAUT
ULAMA DARI SILAU LAUT
Oleh: Solihin Dian Andryanto
Sejauh mata memandang, kumpulan manusia saja yang tampak. Terik menyengat tanah lapang. Berkerumun orang segitu
banyaknya. Nyaris tak ada celah di antara satu dan lainnya. Rapat.
Sebuah tali dibentangkan, memisahkan pria dan wanita. Mereka menunggu
dengan sabar. Menunggu seseorang yang membuat alasan mereka datang, jauh
sekalipun jaraknya.
Lelaki kurus berpeci, berpakaian koko putih, celana panjang hitam, naik
panggung sederhana itu. Ia tersenyum, menatap hingga sejauh pandang ia
bisa. "Assalammualikum warrahmatulahi wabarrakatuh," sapanya. Orangnya
kecil, suaranya keras. Gelegar jawaban bergemuruh itu hari, meruar ke
angkasa.
***
Air Molek, Indragiri Hulu, Riau, 1994.
Mad. Lelaki muda itu dipanggil teman-temannya di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek.
Kota kecamatan ini tak terlalu menonjol, tadinya hanya pohon karet dan rawa saja di mana-mana, menjadi daerah penyambung Rengat dan Taluk Kuantan. Hanya beberapa kilometer dari Air Molek, ada daerah namanya Lirik dulu perusahaan minyak Amerika, Stanvac beroperasi di sini sebelum ada Pertamina dan Medco. Belakangan bermunculan perkebunanan kelapa sawit di sekitarnya. Dulu jembatan masih kayu, jalan disiram sisa minyak hitam, belum beraspal pula.
(Mengapa saya tahu? Saya pernah tinggal dan sekolah di SMA Negeri Air Molek, setahun, pada 1987)
Mad. Anak muda itu bukan asli daerah itu. Ia berasal dari Desa Silo Lama kecamatan Silau Laut Asahan, Sumatera Utara, sebelum pindah ke Pelalawan, Riau. Kehidupan Pesantren dan ilmu agama Islam sudah ditanamkan kepadanya sejak ia kecil. Sekolah dengan basis tahfiz (penghafal) Alquran. Tamat dari SD Al-Washliyah Medan tahun 1990, ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Al-Washliyah Medan. Ia pernah pula menjadi santri di Pesantren Darularafah Deliserdang Sumatera Utara. Sebelum bersekolah di Air Molek, ini.
Mad. Sangat tekun belajar, ia lahap seluruh kitab-kitab. Ia dalami ilmu agama, seperti kehausan akan ilmu. Setiap saat ia hanya dedikasikan waktunya memperdalam ilmu hadist, fiqih, sejarah Islam.
Mad, anak ini tahu benar. Susah payah orangtua menyekolahkannya, tak dia sia-siakan waktunya.
***
Silo Lama, Kecamatan Silau Laut kabupaten Asahan, Sumatera Utara
Rabu, 18 Mei 1977
Bayi lelaki itu lahir petang itu. Dinamai Abdul Somad. Ayahnya seorang petani, ibunya ibu rumah tangga biasa dan guru mengaji anak-anak kampung.
Bayi lelaki itu belum menyadari dalam tubuhnya mengalir darah ulama besar di masanya, Syekh Abdurrahman atau dikenal dengan sebutan Tuan Syekh Silau Laut. Mantan hulubalang Kerajaan Kedah, tokoh yang namanya dikenang di Pattani, Thailand Selatan tempat ia belajar dan menyebarkan agama. Pendekar silat termashyur dan kepercayaan Kerajaan Asahan Melayu.
Tuan Syekh Silau Laut itu kakek dari Hajah Rohana, ibu Abdul Somad. Doa dan harapan orangtuanya, agar bayi lelaki itu kelak bisa melanjutkan nama besar kakek buyutnya. Menjadi ulama, pemersatu umat.
Impian yang didoakan terus menerus dengan hati yang tulus, akan sampai pada pemilik segala hak, dan mewujud kemudian. Ia dikenal sebagai Ustadz Abdul Somad.
***
Somad muda tamat MA Nurul Falah, Air Molek. Melanjutkan kuliah ke UIN Syarif Kasim, Pekanbaru. Setahun saja. Ia tak ingin memberatkan beban orangtua. Pengajuan beasiswanya ke Al Azhar Kairo, Mesir berhasil. Tahun 1998, ia ke Kairo, satu dari 100 orang yang lolos beasiswa tahun itu, dari ribuan pendaftar. Tiga tahun 10 bulan ia lulus, Lc (licence) ia raih dengan baik. Ia lanjutkan di Universitas Kebangsaan Malaysia, dua semester saja ia di sana.
Somad berburu beasiswa lagi. Ia mendaftar ke Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah Rabat, Maroko. Yang setiap tahunnya hanya memberikan 20 beasiswa, 15 dari Maroko, dan 5 dari negara lain. Somad salah satunya. Pada 2004, ia berangkat ke negeri jauh itu. "Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, baru Maroko, menyeberang ke Barcelona, Real Madrid" Ia menjelaskan keberadaan Maroko, disambut gelak tawa.
Di sela-sela kuliah, bila musim haji ia ke Madinah dan Mekah, bekerja membantu jamaah haji asal Indonesia untuk menambah bekalnya. "Suatu hari nampak orang kaya salah satu calon haji, manggil saya. 'Sini kamu, sudah berapa lama jadi TKI' dianggapnya awak ini TKI, "saya mahasiswa" , 'mahasiswa di mana' saya jawab Maroko. "Maroko mananya Merauke?" Ah, tak saya jawablah, tak tahu pula dia." Tawa berderai-derai.
Lulus dari Maroko, setahun 11 bulan. Gelar DESA (DiplĂ´me d’Etudes SupĂ©rieurs Approfondies) berhasil ia raih. Pulang kampung lagi dia. Niatnya terus menimba ilmu, terkendala pesan ibunya untuk pulang. Panjang lagi perjalanan hidupnya, menjadi dosen Dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Dosen Tafsir dan Hadis di Kelas Internasional Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau, Dosen Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Yayasan Masmur Pekanbaru.
Kecendekiaan ilmunya membawanya menjadi anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode 2009–2014, Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode 2009–2014, bahkan pernah menjadi Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode 2009–2014.
"Bapak merokok? tanya penguji kesehatan itu pada saya, saya jawab tidak. Orang itu tanya lagi kenapa bibir bapak hitam? saya jawab, karena kulit saya hitam, bibir hitam, kalau kulit saya hitam bibir saya putih, cem mana pula itu?"
Ustadz Abdul Somad, khotbah di mana-mana, berceramah di langgar atau surau kecil hingga masjid-masjid raya. Di depan pejabat daerah hingga petinggi negeri. Ceramahnya menjadi viral, ditonton jutaan orang. Logat Melayu Riau nya kental.
Pengagumnya makin banyak. Kepiawaiannya membawakan ceramah dengan sederhana namun tak menghilangkan makna, disukai banyak orang. Berduyun-duyun orang datang menanti kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hadis dan Fikih dikupas olehnya, membumi. Tak pernah dalam ceramahnya ia mengajarkan permusuhan, ia tak pernah menyebut mazhab satu lebih baik dari lainnya, ia berkali-kali menyerukan persatuan umat.
Makin tinggi pohon, makin kencang angin menerpa. Disadari benar Abdul Somad. Berbagai halangan ia terima, penolakan kepadanya datang pula. "Apakah saya punya tampang teroris? Wajah saya semanis es krim," katanya.
Ditolak dan dihalang di satu tempat, di tempat lain ia ditinggikan. Ceramah di depan Wapres Jusuf Kalla, dihadapan jajaran Mahkamah Agung, Mabes TNI hingga MPR sudah ia lakukan. Apa yang diragukan lagi darinya? Apa yang ditakutkan dari lelaki ini? Apakah kemampuannya menjadi daya tarik berkumpulnya massa harus diwaspadai dan dicurigai? Dengarkan ceramahnya sampai tuntas agak tak berkesimpulan kusut masai.
***
Menuju Dusun Air Bomban, Batang Gangsal, Indragiri Hulu, Riau. Abdul Somad berkendara mobil lima jam, kemudian naik perahu kecil berjam-jam pula, desa di pedalaman hutan . Suku Talang Mamak, berdiam. Ia mengajarkan mengaji, ia turut membantu pendirian sekolah dan masjid di sana.
Ia dan anak-anak suku terasing yang tak terjamah itu mengibarkan bendera merah putih. Menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di tengah hutan, sepi. Jauh masa, sebelum mereka meragukan ke-Indonesiaannya.
Kegiatan yang sudah lama sekali ia lakukan. Tak hanya dalam khotbah ia menyerukan saling bantu, toleransi, bergotong royong dalam kenyataan ia wujudkan pula. Meski harus berlelah-lelah pula mencapainya. Tak banyak sorot kamera. Jauh dari pusat kota dan sunyi dari pemberitaan. Setahun dua kali ia sempatkan menembus belantara itu.
***
Abdul Somad ingat benar yang disampaikan ulama idolanya KH Syukron Makmun. "Jangan harap pujian, jangan takut cacian".
"Aku tak pernah mencari engkau. Engkau tak pernah mencari aku. Allah yang mempertemukan kita," ia kerap mengatakan ini, bahwa pemilik segala ketentuan hanya Allah SWT semata.
Tuan Syekh Silau Laut akan bangga pada cucu buyutnya ini.
***
Air Molek, Indragiri Hulu, Riau, 1994.
Mad. Lelaki muda itu dipanggil teman-temannya di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek.
Kota kecamatan ini tak terlalu menonjol, tadinya hanya pohon karet dan rawa saja di mana-mana, menjadi daerah penyambung Rengat dan Taluk Kuantan. Hanya beberapa kilometer dari Air Molek, ada daerah namanya Lirik dulu perusahaan minyak Amerika, Stanvac beroperasi di sini sebelum ada Pertamina dan Medco. Belakangan bermunculan perkebunanan kelapa sawit di sekitarnya. Dulu jembatan masih kayu, jalan disiram sisa minyak hitam, belum beraspal pula.
(Mengapa saya tahu? Saya pernah tinggal dan sekolah di SMA Negeri Air Molek, setahun, pada 1987)
Mad. Anak muda itu bukan asli daerah itu. Ia berasal dari Desa Silo Lama kecamatan Silau Laut Asahan, Sumatera Utara, sebelum pindah ke Pelalawan, Riau. Kehidupan Pesantren dan ilmu agama Islam sudah ditanamkan kepadanya sejak ia kecil. Sekolah dengan basis tahfiz (penghafal) Alquran. Tamat dari SD Al-Washliyah Medan tahun 1990, ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Al-Washliyah Medan. Ia pernah pula menjadi santri di Pesantren Darularafah Deliserdang Sumatera Utara. Sebelum bersekolah di Air Molek, ini.
Mad. Sangat tekun belajar, ia lahap seluruh kitab-kitab. Ia dalami ilmu agama, seperti kehausan akan ilmu. Setiap saat ia hanya dedikasikan waktunya memperdalam ilmu hadist, fiqih, sejarah Islam.
Mad, anak ini tahu benar. Susah payah orangtua menyekolahkannya, tak dia sia-siakan waktunya.
***
Silo Lama, Kecamatan Silau Laut kabupaten Asahan, Sumatera Utara
Rabu, 18 Mei 1977
Bayi lelaki itu lahir petang itu. Dinamai Abdul Somad. Ayahnya seorang petani, ibunya ibu rumah tangga biasa dan guru mengaji anak-anak kampung.
Bayi lelaki itu belum menyadari dalam tubuhnya mengalir darah ulama besar di masanya, Syekh Abdurrahman atau dikenal dengan sebutan Tuan Syekh Silau Laut. Mantan hulubalang Kerajaan Kedah, tokoh yang namanya dikenang di Pattani, Thailand Selatan tempat ia belajar dan menyebarkan agama. Pendekar silat termashyur dan kepercayaan Kerajaan Asahan Melayu.
Tuan Syekh Silau Laut itu kakek dari Hajah Rohana, ibu Abdul Somad. Doa dan harapan orangtuanya, agar bayi lelaki itu kelak bisa melanjutkan nama besar kakek buyutnya. Menjadi ulama, pemersatu umat.
Impian yang didoakan terus menerus dengan hati yang tulus, akan sampai pada pemilik segala hak, dan mewujud kemudian. Ia dikenal sebagai Ustadz Abdul Somad.
***
Somad muda tamat MA Nurul Falah, Air Molek. Melanjutkan kuliah ke UIN Syarif Kasim, Pekanbaru. Setahun saja. Ia tak ingin memberatkan beban orangtua. Pengajuan beasiswanya ke Al Azhar Kairo, Mesir berhasil. Tahun 1998, ia ke Kairo, satu dari 100 orang yang lolos beasiswa tahun itu, dari ribuan pendaftar. Tiga tahun 10 bulan ia lulus, Lc (licence) ia raih dengan baik. Ia lanjutkan di Universitas Kebangsaan Malaysia, dua semester saja ia di sana.
Somad berburu beasiswa lagi. Ia mendaftar ke Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah Rabat, Maroko. Yang setiap tahunnya hanya memberikan 20 beasiswa, 15 dari Maroko, dan 5 dari negara lain. Somad salah satunya. Pada 2004, ia berangkat ke negeri jauh itu. "Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, baru Maroko, menyeberang ke Barcelona, Real Madrid" Ia menjelaskan keberadaan Maroko, disambut gelak tawa.
Di sela-sela kuliah, bila musim haji ia ke Madinah dan Mekah, bekerja membantu jamaah haji asal Indonesia untuk menambah bekalnya. "Suatu hari nampak orang kaya salah satu calon haji, manggil saya. 'Sini kamu, sudah berapa lama jadi TKI' dianggapnya awak ini TKI, "saya mahasiswa" , 'mahasiswa di mana' saya jawab Maroko. "Maroko mananya Merauke?" Ah, tak saya jawablah, tak tahu pula dia." Tawa berderai-derai.
Lulus dari Maroko, setahun 11 bulan. Gelar DESA (DiplĂ´me d’Etudes SupĂ©rieurs Approfondies) berhasil ia raih. Pulang kampung lagi dia. Niatnya terus menimba ilmu, terkendala pesan ibunya untuk pulang. Panjang lagi perjalanan hidupnya, menjadi dosen Dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Dosen Tafsir dan Hadis di Kelas Internasional Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau, Dosen Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Yayasan Masmur Pekanbaru.
Kecendekiaan ilmunya membawanya menjadi anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode 2009–2014, Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode 2009–2014, bahkan pernah menjadi Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode 2009–2014.
"Bapak merokok? tanya penguji kesehatan itu pada saya, saya jawab tidak. Orang itu tanya lagi kenapa bibir bapak hitam? saya jawab, karena kulit saya hitam, bibir hitam, kalau kulit saya hitam bibir saya putih, cem mana pula itu?"
Ustadz Abdul Somad, khotbah di mana-mana, berceramah di langgar atau surau kecil hingga masjid-masjid raya. Di depan pejabat daerah hingga petinggi negeri. Ceramahnya menjadi viral, ditonton jutaan orang. Logat Melayu Riau nya kental.
Pengagumnya makin banyak. Kepiawaiannya membawakan ceramah dengan sederhana namun tak menghilangkan makna, disukai banyak orang. Berduyun-duyun orang datang menanti kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hadis dan Fikih dikupas olehnya, membumi. Tak pernah dalam ceramahnya ia mengajarkan permusuhan, ia tak pernah menyebut mazhab satu lebih baik dari lainnya, ia berkali-kali menyerukan persatuan umat.
Makin tinggi pohon, makin kencang angin menerpa. Disadari benar Abdul Somad. Berbagai halangan ia terima, penolakan kepadanya datang pula. "Apakah saya punya tampang teroris? Wajah saya semanis es krim," katanya.
Ditolak dan dihalang di satu tempat, di tempat lain ia ditinggikan. Ceramah di depan Wapres Jusuf Kalla, dihadapan jajaran Mahkamah Agung, Mabes TNI hingga MPR sudah ia lakukan. Apa yang diragukan lagi darinya? Apa yang ditakutkan dari lelaki ini? Apakah kemampuannya menjadi daya tarik berkumpulnya massa harus diwaspadai dan dicurigai? Dengarkan ceramahnya sampai tuntas agak tak berkesimpulan kusut masai.
***
Menuju Dusun Air Bomban, Batang Gangsal, Indragiri Hulu, Riau. Abdul Somad berkendara mobil lima jam, kemudian naik perahu kecil berjam-jam pula, desa di pedalaman hutan . Suku Talang Mamak, berdiam. Ia mengajarkan mengaji, ia turut membantu pendirian sekolah dan masjid di sana.
Ia dan anak-anak suku terasing yang tak terjamah itu mengibarkan bendera merah putih. Menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di tengah hutan, sepi. Jauh masa, sebelum mereka meragukan ke-Indonesiaannya.
Kegiatan yang sudah lama sekali ia lakukan. Tak hanya dalam khotbah ia menyerukan saling bantu, toleransi, bergotong royong dalam kenyataan ia wujudkan pula. Meski harus berlelah-lelah pula mencapainya. Tak banyak sorot kamera. Jauh dari pusat kota dan sunyi dari pemberitaan. Setahun dua kali ia sempatkan menembus belantara itu.
***
Abdul Somad ingat benar yang disampaikan ulama idolanya KH Syukron Makmun. "Jangan harap pujian, jangan takut cacian".
"Aku tak pernah mencari engkau. Engkau tak pernah mencari aku. Allah yang mempertemukan kita," ia kerap mengatakan ini, bahwa pemilik segala ketentuan hanya Allah SWT semata.
Tuan Syekh Silau Laut akan bangga pada cucu buyutnya ini.
DONASI MASYARAKAT SILAU LAUT UNTUK KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI DI SULAWESI TENGAH
DONASI MASYARAKAT SILAU LAUT UNTUK KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI DI SULAWESI TENGAH
Gempa yang berkekuatan 7,7 SR pada Hari Jum'at 28 September 2018 mengakibatkan Tsunami dan merusak sebagian besar rumah dan bangunan warga yang berada di kota Palu, Korban tercatat sampai saat ini sekitar 1200 orang yang dinyatakan meninggal dunia oleh BPBD. Kejadian ini tentu membuat luka masyarakat Indonesia kembali terjadi, mengingat gempa di Lombok masih sangat baru terjadi.
Masyarakat Silau Laut pun turut andil ambil bagian dalam membantu meringankan beban korban gempa dan tsunami yang ada di Sulawesi Tengah. Masyarakat yang di prakarsai oleh pemuda pemudi Silau Laut ini turun kejalan, Kerumah rumah warga dan pertokoan serta Pasar untuk mengumpulkan donasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 03 Oktober 2018. inisiatif pemuda dan pemudi Silau Laut ini turun kejalan yakni keperdulian mereka terhadap penderitaan masyarakat Sulawesi Tengah yang tertimpa musibah.
Dengan semangat ini pula pemuda dan pemudi Silau Laut bermaksud ingin menyadarkan masyarakat sekitar akan kepedulian sesama manusia, keperdulian sesama masyarakat Indonesia untuk korban musibah atau bencana alam.
Kegiatan Ini berlanjut hingga malam hari, pada malam donasi ini pemuda Silau Laut menghadirkan sosok Endra Kong sebagai seniman lukis Indonesia yang berasal dari Silau Laut untuk mendonasikan hasil lukisannya kepada korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.
Banyak masyarakat yang antusias dan mendonasikan uang serta pakaian layak pakai sebagai rasa keperdulian mereka terhadap korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.
Semoga tulisan ini memotifasi masyarakat Kabupaten Asahan dan Seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk saling membantu dalam meringankan beban saudara setanah air yang terkena musibah bencana alam.
created by : Ahlun Nazar Alfaezi, S. Kom
Minggu, 16 September 2018
TIANG LISTRIK TUMBANG MENGAKIBATKAN SATU KORBAN TEWAS DI SILO BARU KECAMATAN SILAU LAUT
TIANG LISTRIK TUMBANG MENGAKIBATKAN SATU KORBAN TEWAS
DI SILO BARU KECAMATAN SILAU LAUT KABUPATEN ASAHAN
Minggu, 16 September 2018 telah terjadi satu kecelakaan yang mengakibatkan satu korban tewas, penyebab kecelakaan nya yakni tiang listrik yang tumbang, Kondisi tiang listrik yang condong diakibatkan tanah yang digenangi air sehingga tanah menjadi gambur. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa. kronologi kejadian pada awalnya tiang listrik yang memang condong pada pukul 13:30 tiang listrik tumbang dan menghambat lalu lintas di jalan sekitar. pada pukul 13:45 dengan kondisi tiang yang sudah tumbang lewatlah korban yang sehabis pulang dari Sawah/Ladang.
ketika lewat korban berselisihan dengan anak sekolah yang juga ingin melintas melewati jalan tersebut. kondisi jalan yang sempit mengakibatkan kedua orang ini berpapasan ketika hendak melintasi jalan. korban yang melintas telah diperingatkan oleh warga sekitar agar tidak melintas melewati jalan yang kondisinya tiang listrik tumbang karena arus listrik masih aktif.
Ketika melewati tiang listrik tersebut motor (Kereta) tersenggol kabel listrik yang terjatuh tersebut. dan korban tidak bisa menyelamatkan diri, sedangkan anak sekolah yang berpapasan dengan korban berhasil menyelamatkan diri. sampai saat ini korban belum diketahui identitasnya, menurut saksi mata Syahril (Korban yang selamat) ciri ciri korban : Umur sekitar 45 tahun, bertubuh kurus berkulit hitam dan rambut pendek. mebawa sepeda motor bernomor polisi BK 3764 OV .
Copyright : Ahlun Nazar Alfaezi, S. Kom. dan Rahmat Hidayat
Sabtu, 15 September 2018
WOOW PESERTA OBOR 1 MUHARRAM DI SILAU LAUT BUKAN HANYA MANUSIA
WOOW
PESERTA OBOR 1 MUHARRAM DI SILAU LAUT BUKAN HANYA MANUSIA
Pawai obor yang dilaksanakan oleh
masyarakat di Silau Laut masih menyisakan kenangan yang begitu mahal oleh
masyarakat sendiri maupun peserta yang mengikuti pawai tersebut, sebab momen
ini jarang sekali ditemui di negeri yang disebut Serambi Mekahnya Kabupaten
Asahan, Kegiatan ini disambut antusias masyaraat setempat maupun di luar daerah
untuk memeriahkan datangnya Tahun baru Islam.
Ada banyak kesan yang masih
tersimpan dibenak masyarak tatkala mengingat hari itu, Ada satu kisah menarik
dari pawai obor 1 Muharram 1440 H, yakni peserta pawai obor bukan hanya dari
kalangan manusia saja tetapi peserta juga ada yg dari bangsa jin atau
masyarakat setempat mengenal mereka dengan nama Bunian.
Silau laut merupakan tempat yang di
keramatkan oleh tokoh masyarakat sebab, di Silau Laut ini dahulunya merupakan
kerajaan Jin yang bertahun tahun yang lalu berdiam di tempat ini, atas karomah Tuan Syekh H. Abdurrahman Silau yang
merupakan kakek Ust. Abdul Somad inilah
Negeri Silau Laut dapat dibuka dengan syarat perjanjian dengan bangsa Jin yang
disebut dengan perjanjian Tujuh Segobuk.
Perjanjian inilah yang hingga kini di jaga oleh pemangku adat sekaligus
Dzurriyat Tuan Syekh Silau yakni H.
Ibrahim Ali. Beliau menceritakan dahulunya negri Silau Laut ini merupakan
daerah yang sangat Seram atau angker sebab disinilah dahulunya para jin
mempunyai istana dan kerajaan. sehingga siapa saja yang ingin masuk ke Silau
Laut ini dengan niat yang tidak baik maka orang tersebut tidak dapat masuk
ataupun keluar dari daerah ini.
Dari data yg di ambil ketika pawai
obor senin malam tersebut tercatat peserta lebih kurang berjumlah seribu orang,
Akan tetapi barisan pawai obor mencapai hampir satu kilometer dengan jarak
setiap peserta dengan peserta lain berjarak 30 hingga 60 Centimeter. jika diperhatikan
lebih lagi dengan jumlah peserta yang seperti itu tidak mungkin dapat mencapai
panjang pawai hingga hampir satu kilometer.
Menurut tetua adat setempat
banyaknya peserta obor ini juga merupakan antusias dari bangsa jin (Bunian)
yang juga ingin menyemarakkan penyambutan tahun baru Islam. Dengan latar
belakang daerah Silau Laut ini bukan tidak mungkin peserta pawai obor merupakan
sebagian dari bangsa jin yang ikut menyemarakkan.
created
post by: Ahlun Nazar Alfaezi, S. Kom
Langganan:
Postingan (Atom)
Biografi Pondok Pesantren Sirajul Musthafa Silau Laut
Biografi Pondok Pesantren Sirajul Musthafa Silau Laut Pondok pesantren sirajul musthafa silau laut terletak di Desa Silo lama Kecamatan ...
-
Syekh Silau Laut merupakan salah seorang ulama besar kenamaan di daerah Asahan, Sumatera Utara, Namanya diabadikan menjadi nama jalan di ...
-
Sabtu, 30 Maret 2019 pengunjung mesjid Ahmad Bakrie Kisaran Asahan Terkejut saat khendak berteduh dari hujan dan menurunkan penumpang ser...

















